Dakwah yang Imajinatif

Ngerasain ga sih, kita tuh lebih seneng diceritain daripada diceramahin. Contohnya waktu pelajaran sejarah di sekolah, kita akan seneng banget kalo dengerin guru bawain materi dengan cerita, bahkan sampe ga kerasa kalo udah mau jam pulang. Beda ceritanya kalo materi itu cuma dibaca oleh guru, atau bahkan kita disuruh baca sendiri, bukannya ilmu yang didapat, mungkin malah ngantuk yang ada.

Contoh lain kalau denger khutbah jumat di masjid, kita lebih fokus mendengar khutbah apabila khotib menyampaikannya dengan narasi yang imajinatif, alias membuat kita berpikir dan berimajinasi ketika mendengarkan khutbah tersebut, apalagi kalau khotibnya berapi-api. Tapi kalau khotibnya hanya membaca narasi yang biasa saja, kita malah terbawa oleh kipasan syaiton dan tertidur, apalagi kalau suara khotibnya kecil, mikrofonnya kurang jelas, makin pulas deh tidurnya. Sehingga dalam satu ceramah Ustadz Abdul Somad (UAS) mengatakan, “terkadang khotib menyampaikan khutbahnya berapi-api, namun jema’ah yang mendengarkan berair-air”, alias tidur sampe bikin pulau di baju sendiri. Walaupun sebenarnya kalau bicara soal khutbah jum’at, bagaimanapun yang salah adalah kita sebagai jema’ah.  Karena khotib hanya bertugas menyampaikan sesuai rukun, kita sebagai jema’ah wajib mendengarkan, bahkan mu’asyir sering mengingatkan kita, “apabila ketika khutbah kita tidak mendengarkan, maka sia-sia lah Sholat Jum’at kita”.

Kembali ke imajinasi, model dakwah bil lisan yang disampaikan dengan imajinatif akan membuat audience atau target dakwah menjadi pendengar yang aktif, bukan hanya sekedar menerima informasi. Dalam dakwah kita sering melupakan bagaimana cara menyampaikannya dengan seru dan enak didengar. Kita terlalu fokus terhadap apa yang disampaikan, sampai lupa nyiapin supaya infonya tersampaikan dengan baik, walupun memang kita harus memastikan betul isi dari dakwah tersebut. Kita seharusnya mencontoh ustadz atau da’i yang sudah dikenal banyak orang seperti UAS, UYM, dan ustadz-ustadz lainnya yang punya gaya dakwah yang diterima dengan baik di masyarakat. Kalau kita perhatikan, beliau-beliau menyampaikan ceramah dengan cara yang sangat enak didengar. Bahkan ketika beliau-beliau berceramah, kita berasa diceritain, bukan diceramahin.Kita bisa mencontoh bagaimana ketika Ustadz Yusuf Manshur (UYM) menceritakan tentang keajaiban sedekah yang terjadi pada dirinya dan jema’ahnya. Kita bisa melihat bagaimana Ustadz Abdul Somad (UAS) bercerita tentang masa kuliahnya selama di Mesir. Isi dalam dakwahnya tidak hilang namun cara menyampaikannya sangat enak didengar.

Sudah seharusnya kita mengupgrade gaya dakwah kita, agar lebih mudah diterima oleh sasaran dakwah. Karena zaman terus berubah, namun dakwah harus tetap jalan. Jangan-jangan selama ini dakwah mulai ditinggalkan karena beberapa orang merasa gaya dakwah yang ada sudah tidak relevan dengan kehidupan zaman sekarang, sehingga mereka meninggalkan dakwah bukan karena isinya tapi karena caranya. Na’udzubillah.

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai