Belajar agama yang Kaffah

Di zaman modern seperti sekarang kekuatan nalar dan akal menjadi tumpuan dalam menjalani kehidupan sehari-hari, termasuk juga dalam mengamati kehidupan sehari-hari menggunakan akal pikiran masing-masing individu. Bahkan bagi sebagian orang, kekuatan akal dianggap lebih tinggi dari Tuhan. Mereka menyangkal bahwa kehidupan ini diatur oleh Tuhan dan wajib menyembah Tuhan. Adanya Tuhan berarti ada agama, walaupun sebagian lain tidak beranggapan demikian. Dengan demikian, mereka berpikir bahwa agama itu salah dan tidak ada gunanya.

Menurut orang-orang berTuhan akal ini, agama hanyalah ilusi yang didongengkan kepada umat manusia tanpa memiliki tujuan yang jelas dan dampak yang nyata. Agama hanya sebagai simbol dan terkadang tidak berperikemanusiaan, menurut mereka. Sehingga muncul kalimat, “menurut gue yang penting kita hidup berbuat baik dan tidak mengganggu orang lain, jadi agama itu ga terlalu penting”, “tidak perlu agama untuk menjadi baik, malah banyak kok orang yang beragama tapi kelakuannya kaya setan”. Ada lagi yang bilang, “temen gue dari kecil rajin ngaji, terus masuk pesantren sampe tamat sekolah, ehh pas gedenya gay wkwkw.” Nahh yang ini lucu, dia menertawakan temannya yang menurut dia agamanya bagus tapi waktu besar jadi gay, padahal biasanya mereka menjunjung tinggi hak LGBT tapi kali ini ditertawakan.

Kalimat-kalimat yang muncul dari mulut yang bersumber dari Tuhan akal mereka sebenarnya menunjukkan kelemahan mereka sendiri, yakni sedikitnya informasi yang mereka terima tentang agama dan kehidupan beragama. Sejatinya agama secara prinsip sangat menjunjung tinggi nilai-nilai kebaikan dan jauh dari pelanggaran, karena standar agama sudah pasti mencakup standar sosial. Lalu, bila ada segelintir orang yang dianggap ngerti agama tapi rusak perilakunya, bukan berarti agama itu rusak secara keseluruhan. Lebih dalam lagi, apabila orang tersebut benar-benar sempurna alias kaffah dalam belajar dan mengamalkan ilmu agama, maka dipastikan dia tidak akan melanggar dan melakukan perbuatan yang menyimpang. Justru karena ketidaksempurnaan ia dalam beragama lah, sehingga dia bisa berbuat keburukan.

Jadi sebenarnya, kalau ada orang yang secara tampilan sangat mahir ilmu agama, secara gerak-gerik sangat mendalami ilmu agama, belum tentu ia benar-benar memahami dan menjalani ilmu agama yang dia miliki. Karena dia punya pilihan dalam dirinya, belajar dan mengamalkan, atau belajar dan terlihat mengamalkan, keduanya jelas berbeda. Sehingga dari sini seharusnya jelas, bahwa apabila ada orang yang dikira pandai agama tapi melakukan perbuatan keji, itu artinya orang tersebut belum mempelajari dan mengamalkan agama secara kaffah atau sempurna. Wallahua’lam bisshowab.

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai